Jumat, 17 Juni 2011

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)/IUD

DEFENISI
AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) atau IUD (Intra Uterine Device) adalah alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim terbuat dari rangka plastik yang lentur dan benang dengan tembaga atau hormon progestin.
IUD dalam bahasa Indonesia disebut alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) adalah alat kontrasepsi yang oleh masyarakat awam biasa disebut spiral. Sesuai dengan namanya AKDR, alat ini dipakai dalam rahim. Sejak metode AKDR dikenalkan banyak orang menggunakan untuk program pengaturan jumlah anak dalam keluarga karena relatif aman, mudah, dan murah. Pengguna alat kontrasepsi ini tidak perlu mengulang pemakaiannya setiap hari, sehingga tidak merepotkan. AKDR tidak mengandung zat-zat hormonal yang dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh.



Gambar : AKDR/IUD dalam rahim


JENIS AKDR
Jenis dari AKDR/IUD ini bermacam-macam, paling umum dulu dikenal dengan nama spiral. Jenis-jenis dari AKDR/IUD tersebut dapat terlihat pada gambar di bawah ini :
a.   Lippes-Loop
b.   Saf-T-Coil
c.   Dana-Super
d.   Copper-T (Gyne-T)
e.   Copper-7 (Gravigard)
f.   Multiload
g.   Progesteron IUD




Dari berbagai jenis AKDR/IUD di atas, saat ini yang umum beredar dipakai di Indonesia ada 3 macam jenis yaitu :
  a.   AKDR/IUD Copper T
   Terbentuk dari rangka plastik yang lentur dan
      tembaga yang berada pada kedua lengan AKDR/
      IUD dan batang AKDR/IUD.
      Gambarnya sebagai berikut :

b.   AKDR/IUD Nova T
Terbentuk dari rangka plastik dan tembaga.
Pada ujung lengan AKDR/IUD bentuknya agak
melengkung tanpa ada tembaga,
tembaga hanya ada pada batang AKDR/IUD.
Gambarnya sebagai berikut :


c.   AKDR/IUD Mirena 
   Berbentuk dari rangka plastik yang dikelilingi oleh 
   silinder pelepas hormon Levonolgestrel (hormone 
   progesteron) sehingga IUD ini dapat dipakai oleh 
   ibu menyusui karena tidak menghambat ASI. 
   Gambarnya sebagai berikut :



WAKTU PEMASANGAN 
   a.   Kapan saja dalam siklus haid selama yakin tidak hamil.
   b.   Pemasangan setelah persalinan :
             ·   Boleh dipasang dalam waktu 48 jam pasca persalinan.
             ·   Dapat pula dipasang setelah 4  minggu pasca persalinan, dengan 
                  dipastikan tidak hamil.
   c. Setelah keguguran atau aborsi :
             ·   Jika mengalami keguguran dalam 7 hari terakhir, boleh dipasang
                  jika tidak ada infeksi. Jika keguguran lebih dari 7 hari
                  terakhir, boleh dipasang jika dipastikan tidak hamil.
             ·   Jika terjadi infeksi, boleh dipasang 3 bulan setelah sembuh.
                  Pakai metode kontrasepsi yang lain. 
   d. Jika ganti dari metode lain :
             ·   Jika telah memakai metode lain dengan benar atau tidak
                  bersenggama sejak haid terakhir, AKDR boleh dipasang.

KELEBIHAN
a.   Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi ( 1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan).
b.   Dapat efektif segera setelah pemasangan.
c.   Metode jangka panjang (AKDR/ IUD Copper T 380 A bekerja hingga 10 tahun, AKDR/IUD Nova T hingga 5 tahun dan AKDR/IUD Mirena 1 tahun).
d.   Tidak tergantung pada daya ingat.
e.   Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
f.   Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.
g.   Membantu mencegah kehamilan di luar kandungan (kehamilan ektopik).
h.   Untuk AKDR/IUD selain IUD Mirena tidak ada efek samping hormonal seperti kenaikan berat badan, flek pada kulit, flek di antara haid (spotting), dll.

EFEK SAMPING
a.   Spotting
Keluarnya bercak-bercak darah diantara siklus menstruasi, spoting akan muncul jika capek dan stress. Perempuan yang aktif sering mengalami spotting jika menggunakan kontrasepsi AKDR.
b.   Perubahan siklus menstruasi
Setelah pemasangan AKDR siklus menstruasi menjadi lebih pendek. Siklus menstruasi yang muncul lebih cepat dari siklus normal rata-rata yaitu 28 hari dengan lama haid 3-7 hari, biasanya siklus haid berubah menjadi 21 hari.
c.   Amenore
Tidak didapat tanda haid selama 3 bulan atau lebih.
d.   Dismenore
Munculnya rasa nyeri saat menstruasi.
e.   Menorrhagea
Perdarahan berat secara eksesif selama masa haid atau  haid yang lebih banyak.
f.   Fluor albus
Penggunaan AKDR akan memicu rekurensi vaginosis bacterial yaitu keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang disebabkan bertambahnya pertumbuhan flora vagina bakteri anaerob menggantikan Lactobacillus yang mempunyai konsentrasi tinggi sebagai flora normal vagina.
g.   Pendarahan Post seksual
Pendarahan post seksual ini disebabkan karena posisi benang AKDR yang menggesek mulut rahim atau dinding vagina sehingga menimbulkan pendarahan.

YANG DAPAT MENGGUNAKAN AKDR
a.   Usia reproduktif.
b.   Apabila jumlah anak telah mencapai yang dikehendaki.
c.   Menginginkan kontrasepsi jangka panjang.
d.   Menyusui.
e.   Setelah mengalami keguguran dan tidak terlihat adanya infeksi.
f.   Risiko rendah IMS.
g.   Tidak menghendaki metode kontrasepsi hormonal.

YANG TIDAK DAPAT MENGGUNAKAN AKDR
a.   Kemungkinan hamil.
b.   Baru saja melahirkan (2-28 hari pasca melahirkan), pemasangan IUD hanya boleh dilakukan sebelum 48 jam dan setelah 4 minggu pasca persalinan.
c.   Memiliki risiko IMS (termasuk HIV), yang berisiko terinfeksi IMS/HIV yaitu :
·   Yang mempunyai lebih lebih dari 1 pasangan tidak selalu memakai kondom.
·   Yang memiliki pasangan dengan HIV/IMS dan tidak selalu memakai kondom.
·   Memakai jarum suntik bersama, atau pasangan memakai jarum suntik
(hanya untuk HIV tetapi tidak untuk IMS).
d.   Perdarahan vagina yang tidak diketahui.
e.   Sedang menderita infeksi alat genital.
f.   Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita Penyakit Radang Panggul atau Infeksi setelah keguguran.

UPAYA BIDAN DALAM MENANGGULANGI EFEK SAMPING
a.   Jika permasalahan ringan, dianjurkan agar dilakukan konseling.
b.   Jika terjadi terdapat infeksi maupun gejalanya segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
c.   Pada efek samping amenore, periksa apakah sedang hamil atau tidak.
·   Apabila tidak, AKDR tidak dilepas. Memberi konseling dan menyelidiki penyebab amenorea apabila dikehendaki.
·   Apabila hamil, dijelaskan dan disarankan untuk melepas AKDR apabila talinya terlihat dan kehamilan kurang dari 13 minggu.
·   Apabila benang tidak terlihat, atau kehamilan lebih dari 13 minggu, AKDR tidak dilepas.
·   Apabila klien sedang hamil dan ingin mempertahankan kehamilan tanpa melepas AKDR maka dijelaskan adanya resiko kemungkinan terjadinya kegagalan kehamilan dan infeksi serta perkembangan kehamilan harus lebih diamati dan diperhatikan.
d.   Untuk penanganan dismenore yaitu memastikan dan menegaskan adanya penyakit radang panggul (PRP) dan penyebab lain dari kekejangan.  
·   Menanggulangi penyebabnya apabila ditemukan.
·   Apabila tidak ditemukan penyebabnya diberi analgesik untuk sedikit meringankan. Apabila klien mengalami kejang yang berat, AKDR dilepas dan membantu klien menentukan metode kontrasepsi yang lain.
e.   Pada perdarahan hebat yaitu :
·   Apabila tidak ada kelainan patologis, perdarahan bekelanjutan serta perdarahan hebat, melakukan konseling dan pemantauan.
·   Memberi Ibuprofen (800mg, 3 x sehari selama 1 minggu) untuk mengurangi perdarahan dan memberikan tablet besi (1 tablet setiap hari selama 1-3 bulan).
·   AKDR memungkinkan dilepas apabila klien menghendaki. Apabila klien telah memakai AKDR selama lebih dari 3 bulan dan diketahui menderita anemi (Hb <7g%) dianjurkan untuk melepas AKDR dan membantu memilih metode lain yang sesuai.


  Referensi :
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu kebidanan. Jakarta: YBP-SP
Prawirohardjo, Sarwono. 2003. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta: YBP-SP
Prof.Dr.Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsis obstetri jilid 2. Jakarta: ECG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar