Minggu, 07 Agustus 2011

Berapa Lama Kita Dikubur??


     Awan sedikit mendung, ketika kaki-kaki kecil Dina berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.
Baju merahnya yg kebesaran melambai lambai ditiup angin. Tangan kanannya memegang es krim sambil sesekali diangkat ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.
     Dina dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk diatas seonggok nisan "Hj.Rahmawati binti Rahman 19-10-1915 : 20- 01-1965"
"Nak, ini kuburan nenekmu mari kita berdo’a untuk nenekmu" Dina melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk neneknya.
"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya, Yah?" Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, dan memandang pusara Ibunya.
"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya, Yah?" Kata Dina berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.
"Ya, nenekmu sudah di dalam kubur selama 42 tahun"
Dina memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zainal 19-02-1882 : 30-01-1910″
"Hmm...Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya, Yah?" Jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya.
Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa Nak?" Kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.
"Hmm...Ayah kan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka" Kata Dina sambil meminta persetujuan ayahnya
"Iya kan Yah??"
Ayahnya tersenyum, "Lalu??"
"Iya...Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di dalam kubur?? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang di dalam kubur. Ya nggak, Yah?" Mata Dina berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya tentang pendapatnya.
Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas.
"Iya nak, kamu pintar" Kata ayahnya pendek.
Pulang dari pemakaman, ayah Dina tampak gelisah diatas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya. 42 tahun hingga sekarang...Kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa...atau bahagia dikubur...Lalu ia menunduk, meneteskan air mata.
     Kalau ia meninggal...Lalu banyak dosanya...Lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un...Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan.
Ya Allah...Ia semakin menunduk, tangannya terangkat keatas, bahunya naik turun tak teratur...air matanya semakin membanjiri wajahnya.
     Allahumma as aluka khusnul khootimah...berulang kali dibacanya do'a itu hingga suaranya serak. Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Dina.
Dihampirinya Dina yang tertidur di atas tempat tidur. Di betulkannya selimutnya. Dina terus tertidur tanpa tahu betapa sang Ayah sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan. Dan apa yang akan datang di depannya.
"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Engkau letakkan dihatiku..."

Bila Payudara "Meradang" Pada Masa Laktasi

    Radang payudara (mastitis) tidak jarang dijumpai pada wanita yang sedang menyusui. Tandanya, kulit payudara merah dan bengkak, teraba panas, serta payudara sakit 'bukan main'.
    Adanya mastitis biasanya menandakan gaya hidup
dan pola menyusui yang tidak benar, seperti
ketidakteraturan menyusui, sering memberikan susu
formula untuk menggantikan ASI, atau tidak memompa
payudara secara teratur. Selain itu, kelelahan dan
stres juga bisa menurunkan kekebalan tubuh si ibu
sehingga timbul radang.
    Agar mastitis tidak terjadi, faktor-faktor penyebab diatas harus diperbaiki.
Berikut ini tips mencegah dan mengatasi radang payudara (mastitis) :

CARA MENCEGAH RADANG PAYUDARA (MASTITIS) :
1. Keluarkan kelebihan ASI dengan segera. ASI yang tidak dikeluarkan akan
    menumpuk dan menimbulkan penyumbatan didalam payudara yang
    dapat berujung pada peradangan.
2. Susuilah bayi sesering mungkin dan jangan memperpanjang jarak antar
    tiap waktu menyusui.
3. Jika payudara sudah terasa penuh ASI, bujuklah bayi untuk menyusui.
    Anda tidak perlu menunggu hingga 'si kecil' merasa lapar.
 

CARA MENGATASI RADANG PAYUDARA (MASTITIS) :
1. Istirahat
    Istirahat akan menghilangkan stres dan meningkatkan kekebalan tubuh
    anda kembali.

2. Kompres payudara
    Secara bergantian, kompreslah payudara anda dengan kompres hangat
    dan dingin. Kompres dingin bertujuan untuk menghilangkan rasa nyeri,
    sedangkan kompres panas bertujuan untuk membantu memerangi
    peradangan.

3. Pijat daerah yang sakit
    Pemijatan akan meningkatkan sirkulasi, mengurangi penyumbatan
    payudara serta membantu meningkatkan faktor imunitas di payudara.
    Pijatlah payudara anda sambil mandi air hangat atau berendam di air
    hangat.

4. Jangan berhenti menyusui
    Meskipun payudara meradang, berhenti menyusui dapat menyebabkan
    terjadinya infeksi kuman penyakit pada payudara yang dapat berlanjut
    menjadi abses payudara (payudara bernanah).

5. Susuilah lebih sering di payudara yang meradang
   
> Susuilah bayi pada payudara yang meradang sampai kosong, karena
       apabila ada yang tersisa akan lebih mudah terjadi infeksi lagi.
    > Sebaiknya langsung susui bayi (jangan dipompa), kecuali jika terpaksa
       karena bayi menolak menyusu, keluarkan ASI dengan tangan atau
       dipompa.
    > Mulailah menyusui dengan payudara yang sehat, setelah itu baru ganti
       ke payudara yang sakit. Cara ini akan mengurangi nyeri saat menyusu.

6. Apabila bayi anda menolak untuk menyusu pada payudara yang meradang
    Ini dapat disebabkan karena peradangan kelenjar susu meningkatkan
    kadar sodium (garam) pada ASI sehingga rasanya dapat berubah menjadi
    asin. Kebanyakan bayi tidak menyadari rasa asin ini, tetapi ada bayi yang
    menolak untuk meminumnya.
    Apabila bayi menolak, mulailah menyusui dari payudara yang sehat,
    setelah itu dilanjutkan ke payudara yang meradang. 

7. Periksa ke dokter
    Apabila peradangan terus berlanjut, segeralah periksa ke dokter.  

Sabtu, 06 Agustus 2011

Perawatan Payudara (Breast Care)

    Peradangan payudara, penyakit pada ibu, bentuk puting yang tidak sesuai, sampai penyakit pada anak bisa menyebabkan ibu tidak mampu menyusui anaknya.Dengan perawatan payudara yang tepat, sebenarnya hal-hal itu bisa dicegah. Bagaimana caranya??
    Dibawah ini, diuraikan perawatan payudara pada masa kehamilan sampai masa menyusui yang dapat dilakukan secara mandiri, selamat mencoba... :)

A. MASA KEHAMILAN
     Dalam masa kehamilan, ASI laktasi (Air Susu Ibu pada masa menyusui) perlu dipersiapkan dengan lebih intensif.
     Kedua ibu jari diletakkan diatas dan dibawah puting susu, kemudian secara perlahan-lahan ditekan dan dihentakkan kearah luar menjauhi puting susu. Gerakan ini dilakukan sebanyak 4-5 kali
pada pagi hari ketika puting susu dalam keadaan ereksi (tegang).
     Selain itu, hindari membersihkan payudara dengan alkohol atau sabun yang keras karena dapat mengangkat minyak pelindung kulit pada puting susu, sehingga kulit jadi kering dan puting susu bisa lecet.

     Pakailah bra yang pas, tidak ketat dan bersifat menopang payudara, jangan memakai bra yang ketat dan menekan payudara serta senam teratur. Lakukan secara teratur dan sedini mungkin.

B. SEGERA PASCA PERSALINAN 
    1. Segera susui bayi setelah ia lahir (sebaiknya kurang lebih 1 jam pasca
        persalinan.
 
    2. Berikan colostrum (ASI yang keluar pertama kali) pada bayi, dan jangan
        dibuang.
 
    3. Susuilah bayi sesering mungkin. 
    4. Jangan berikan bayi munuman lain selain ASI. 
    5. Hindari memberikan dot/empeng pada bayi. 
    6. Terapkan menyusui yang benar, yaitu :
         > Mulut bayi terbuka lebar.
         > Dagu bayi menempel di payudara ibu.
         > Bibir bawah bayi melengkung keluar.
         > Tepi areola payudara bagian bawah tidak
            tampak saat bayi menyusui.
         > Bayi tenang dan rileks.
         > Puting susu tidak terasa sakit/nyeri saat
            menyusui.
         > Kadang terdengar bunyi menelan.
         > Perut bayi menempel pada perut ibu.
         > Telinga bayi berada dalam keadaan satu garis dengan lengan dan
            tubuhnya.
         > Setelah menyusui, bayi harus disendawakan.

C. MASA NEONATAL
     (Masa bayi baru lahir sampai dengan usia 7 hari).
      > Sebaiknya bayi ditidurkan sekamar dengan ibunya sehari semalam
         (24 jam).

      > Susuilah bayi sesering mungkin sesuai kebutuhannya.
      > Jangan berikan dot/kempeng pada bayi.
      > Terapkan teknik menyusui yang benar.
      > Pastikan ibu mengkonsumsi makanan/minuman yang cukup/lebih
         banyak dibandingkan dengan tidak menyusui.

D. MASA MENYUSUI 
    Sesudah melahirkan, payudara perlu dirawat dengan cara dipijat (massase). Tindakan ini bisa memelihara kebersihan payudara, melancarkan keluarnya ASI, mencegah bendungan yang dapat mengakibatkan peradangan pada payudara, dan mencegah terjadinya bengkak pada payudara.
    Pemijatan sebaiknya dilakukan sejak hari kedua setelah melahirkan sebanyak 2 kali sehari. Agar hasilnya baik, lakukan pemijatan  secara sistematis dan teratur, disertai perawatan tubuh secara umum seperti mengkonsumsi cukup makanan bergizi, menjaga personal hygiene, dan cukup istirahat.
    Berikut langkah-langkah pemijatan payudara :
1. Tuangkan minyak secukupnya.
    Dapat menggunakan minyak kelapa.

2. Friction
    Sokong payudara kiri dengan tangan kiri,
    payudara kanan dengan tangan kanan. Dua
    pertiga jari pada tangan yang berlawanan
    membuat gerakan memutar sambil menekan
    dari pangkal payudara dan berakhir pada
    puting susu. Lakukan 2 kali gerakan pada
    setiap payudara.

3. Massase
    Tempatkan kedua telapak tangan diantara kedua 
    payudara. Urutlah payudara dari tengah keatas sambil mengangkat kedua
    payudara, dan lepaskan kedua payudara perlahan-lahan.

4. Pengompresan payudara
    Alat-alat yang dipersiapkan :
    > 2 buah kom sedang yang masinh-masing diisi dengan air hangat
       dan air dingin biasa.

    > 2 buah washlap.
    Caranya :
    > Kompres kedua payudara dengan washlap air hangat selama 2 menit,
       kemudian ganti dengan kompres air dingin selama 1 menit.
       Kompres bergantian 3 kali berturut-berturut dan akhiri dengan kompres
       hangat.

Anatomi Fisiologi Payudara

      Payudara mungkin bagian tubuh wanita yang paling menarik dan dibanggakan pemiliknya. Ketika hamil dan menyusui, payudara yang dibanggakan itu biasanya mengalami perubahan bentuk menjadi besar, tegang, dan tidak lagi indah, padat berisi.
      Dengan tujuan menjaga keindahan payudara, sebagian ibu jadi lantas mengurungkan niatnya menyusui dan berpaling pada susu formula. Padahal, ASI (Air Susu Ibu) sangat baik kualitasnya dan sesuai dengan kebutuhan bayi.
     Alasan estetika seperti diatas hanya salah satu dari sekian banyak penyebab ibu tidak sukses menyusui. Peradangan payudara, penyakit pada ibu, bentuk puting yang tidak sesuai, sampai penyakit pada anak bisa menyebabkan ibu tidak mampu menyusui anaknya. Dengan perawatan payudara yang tepat, sebenarnya hal-hal seperti itu bisa dicegah.
    Secara vertikal payudara terletak diantara kosta II dan IV, secara horizontal mulai dari pinggir sternum sampai linea aksilaris medialis.
    Kelenjar susu terletak di jaringan subkutan, tepatnya diantara jaringan subkutan superfisial dan profundus. Payudara tersusun dari jaringan kelenjar, jaringan ikat dan jaringan lemak.
Ukuran :
  • Wanita dewasa umumnya memiliki payudara berdiameter 10-12 cm,
    dengan berat diluar kehamilan sekitar 200 gr.
  • Pada akhir kehamilan berat payudara dapat mencapai 400-600 gr.
  • Pada saat menyusui mencapai 600-800 gr.
Bagian utama payudara :
  • Korpus (badan).
  • Areola (kalang payudara).
    Letaknya mengelilingi payudara dan
    berwarna kegelapan yang disebabkan
    oleh penipisan dan penimbunan pigmen
    pada kulitnya.
  • Papilla (puting).
    Terletak setinggi interkosta IV,
    terdapat lubang-lubang kecil yang
    merupakan muara dari ductus laktiferus, ujung-ujung serat otot polos yang tersusun sirkuler sehingga bila ada kontraksi, maka ductus laktiferus akan memadat dan menyebabkan puting susu ereksi. Sedangkan serat-serat otot yang longitudinal akan menarik kembali puting susu tersebut.
Bentuk puting susu pada wanita ada 3 macam :
  • Puting susu normal.
  • Puting susu datar.
  • Puting susu masuk kedalam.